Jumat, 02 Desember 2011

Tentangmu dan Bukit Perawan

Dingin menyapaku melalui celah bukit perawan. Keindahan lukisan putri tidur menyemai wajahmu disana. Ada rindu yang kupahat untuk satu senyummu yang kau tinggal saat kali pertama kau menyapaku disini. Hujan mewarnai pertemuan kita kala itu.
            Kedatanganmu yang tiba-tiba seolah membangunkanku dari mimpi. Bahkan aku sempat tak sadar kalau yang kujumpai adalah dirimu, yang dulu sempat melukis senyum lembut untukku dikampus. Kau berhasil menyihirku kembali, membekukanku dalam tatap mata elangmu.
            Kau bawa aku dalam diskusi hangat tak berujung, dan seperti biasa kita tak kan pernah sependapat. Ternyata  kau tak banyak berubah Rif. Kau masih Arif yang kukenal, yang selalu berusaha mematahkan segala pendapatku. Apalagi jika hal itu menyangkut perempuan, kau pasti akan mati-matian menyerangku dengan segala argumen yang menyudutkan.
            Pagi ini, kembali kupandangi putri tidur. Rasa dingin seolah membungkusku sampai pori. Kau benar. Malang memang tak pernah lepas dari cuaca dinginnya. Asal kau tahu, Rif, putri tidur tampak pulas dalam mimpi. Awan pagi masih setia menyelimutinya. Aku jadi menkaji perdebatan kita bulan lalu disini, diserambi mesjid tempat pertama kita bertemu. 
            “Selamanya kau tetap akan menjadi objek, Rin! Kau takkan pernah berengkarnasi menjadi makhluk pertama. Posisimu tetap dinomer dua,” hujatmu kala itu.
            “Takkan selamanya, Rif. Suatu saat kubuktikan, kalau aku dan perempuan lainnya bukan hanya akan jadi objek. Kita juga punya hak untuk menjadi makhluk pertama ,”sungutku tak kalah sengit.
            “Sudahlah, akui saja. Bagaimanpun posisimu tetap sebagai khabar, dan khabar itu selalu ada setelah mubtada’. Sekalipun ada khabar muqaddam, tapi jarang Rin. . .,” sanggahmu kembali. Kau analogikakan diriku sebagai khabar dalam istilah nahwu dan perdebatan kita mengalir semakin panas. Suaraku semakin meninggi saja saat kau berhasil menyudutkanku. Entah kenapa, kau selalu bisa membuat aliran darahku meninggi dengan segala argumenmu. Mungkin karena kau tahu tentangku yang tak pernah mau dianggap makhluk nomer dua.
            Ya. Aku memang tak pernah setuju dengan segala argumen yang menyudutkan perempuan. Sudah terlalu banyak airmata darah yang perempuan keluarkan untuk segumpal kejahatan laki-laki. Laki-laki memang tak pernah puas dengan segala yang didapatkan. Karena merasa dirinya diciptakan lebih dahulu dari pada Hawa, seenaknya saja menjadikan perempuan sebagai objek yang bisa diperlakukan bagaimanapun.
            Aku akan menghapus segala anggapan tentang tugas perempuan yang masih mendaging dibenak setiap orang di masyarakatku. Tentang perempuan yang hanya memilki tiga fungsi dalam 3D, di sumur, di kasur dan di dapur.  Tentu hal ini sangat tidak fair untuk perempuan. kita juga punya hak untuk bicara dan berpendapat seharusnya, bukan semata-mata tunduk dan berlindung dibawah ketiak laki-laki.
            Sekali lagi kutegaskan. Konsep arrijalu qawwamuna alan nisa’ hanya berlaku dalam kehidupan rumah tangga. Namun dalil tersebut juga tak semata-mata mengesampingkan perempuan. Perempuan juga berhak menerima haknya. Kita juga bisa berkiprah dengan segala kreatifitas yang kita milki. Bukankah orang-orang besar selalu lahir dan tumbuh dari rahim perempuan?
            Hari ini, aku berdiri di hamparan langit luas menyaksikan putri tidur disela bukit perawan. Dua hari yang lalu aku berhasil membungkam sekian lelaki yang ada di kampusku. Aku berhasil mengalahkan mereka dengan gelar wisudawati terbaik dan beasiswa ke luar negri yang kuterima. Aku bisa berada jauh diatas mereka Rif.
            Angin dingin pagi ini membuatku mengenangmu yang selalu berhasil menghujatku. Sekarang sudah kubuktikan, bukan? Aku tak mau kau menganggapku sebagai makhluk nomer dua lagi. Sekali-kali aku ingin benar-benar membungkammu Rif. Sekali saja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar