Jumat, 02 Desember 2011

BERULANG PURNAMA

 'Aku masih setia menghitung menit disini, disudut serambi mesjid tempat biasa kita bertemu. Wangi melati masih setia menemaniku, setidaknya sebagai sahabat mengobrol yang asyik sambil menunggumu diawal malam. Ini sudah purnama ketujuh An, sejak kau menjelma menjadi kopi pada malam-malamku yang dingin. Entahlah, perpaduan antara warna bibir dan wajahmu selalu mampu menjadi bendera dalam upacara kesunyian hatiku..
            Kau mampu membawa siang dalam malamku, dan mencipta matahari diawal pagi. Akh! Kau sudah datang rupanya. Samar-samar kulihat mungil tubuhmu dibawah purnama. Kau masih saja menunduk sambil terus berjalan bersama purnama yang terus menyorotimu layaknya lampu sorot yang biasa kujumpai di tv-tv. Mungkin ia juga takut melewatkan secercah senyum yang akan kau layangkan padaku. Kuyakin masih belum ada yang bisa menyaingi senyum seindah senyum yang selalu kau hadiahkan disetiap perjumpaan kita. Saat itu kurasakan dunia berhenti bernafas, sebab kau mampu membius semuanya tanpa obat bius sekalipun.
            “Sudah lama Ra? Maaf jika membiarkan sampean menunggu…,” ucapmu ketika melihat sosokku didekat melati. Akh! Masih saja kau memanggilku dengan sebutan Lora. Tak bisakah kau menyebut namaku atau memanggilku dengan sebutan lain? An, An. Kau masih saja sulit kutebak.
            “Nggak, barusan kok” jawabku sekenanya. Aku memang telah lama mematung disini An, tapi itu takkan membuatku berlumut karena menunggumu.
            Diam kembali mewarnai pertemuan kita, akupun tak mengerti. Sepertinya ribuna kata-kata sedang berlomba, berloncatan di kepalaku namun mereka seolah enggan keluar dan tak mampu mengabarkan rindu yang selalu kusimpan rapat untukmu. Sebenarnya begitu banyak cerita dan pertanyaan yang ingin kubincangkan denganmu An, tapi lidah ini seolah kelu dan tak berani mengatakannya. Akankah hal inipun terjadi padamu? Ayolah An, angkat wajahmu! jangan terus menurus diam dan menyembunyikan rona merah pipimu itu dibalik lesung pipit yang terkadang kau perlihatkan.
            “Maaf Ra, ada apa  memanggil saya?” tanyamu kemudian seolah tak mengerti. Kau begitu nampak sungkan  dan berbeda, membuatku bertanya-tanya akan halmu malam ini. Kenapa kau seakan mendingin? seolah-olah kau tak pernah merasakan rasa rindu yang nyaris membunuhku ini.
Hubungan kita memang tak bersetatus An, tapi percayalah aku telah mengusahakannya. Telah kuupayakan segala dayaku untuk memintamu pada abah. Tapi kau benar! Abah tak pernah memberi jawaban akan hal itu. Mungkin dia juga akan marah mengetahuiku selalu memanggilmu secara diam-diam. Meski begitu kau tak pernah menyesal kan? Aku terlalu membidadarikanmu An, sampai tak jarang aku berpikir malaikat akan cemburu ketika secara diam-diam kau juga datang padaku.
“Aku hanya ingin melihatmu,” jawabku. Entah kenapa pula lidahku harus terasa kelu untuk sekedar mengucapkan aku merindukanmu. Kulihat kau samar-samar tersenyum dibawah purnama. Kau tahu? nyaris saja aku terlelap melihat senyummu yang memabukkan itu.
“Kalau begitu, saya pergi dulu Ra. Tidak enak berlama-lama disini. Sungkan. O ya, terima kasih masih menyimpan nama saya sampai saat ini.” Pamitmu dengan kembali meninggalkan secarik senyum. Kau selalu begitu, begitu patuhkah kau pada peraturan Ma’had, sampai kau tak ingin bersamaku malam ini? Pertemuan kita terlalu sebentar untuk menghapus rindu yang membuncah. Tapi tak apalah, malam ini sudah cukup untukku, setidaknya aku bisa melukis ulang sketsa wajahmu dalam memori hatiku.
* * *
Malam semakin merangkak. Sinar purnama seolah menghilang seiring kepergianmu. Aku yakin malam ikut berduka melihatmu pergi meninggalkanku mematung disini. Akh! Entah kapan kita bisa berbincang lagi?
Kembali kuambil kanfas dan beberapa cat air yang kutuang dalam wadah biasa untuk melukis sketsa wajahmu sebelum angin mengambilmu kembali dari ingatanku. Masih jelas dipelupuk mataku An, merah bibirmu yang selalu merekah menebar senyum atau wangi tubuhmu yang diseret angin serupa kesturi yang menyebar dari surga.
Jariku-jariku semakin lentik saja menari, mengukir wajahmu yang telah purnama dalam ingatanku. Mungkin kau serupa Aisyah yang selalu dicintai Muhammad, atau Hayati yang sering dipuja Zainuddin atau mungkin juga Laila yang mampu mencipta majnun dalam diri Qois. Tapi bagiku, kau lebih dari segalanya.
Bulan mengintip malu dicelah dedaunan, meski malam semakin pekat, sketsa wajahmu masih terang dalam ingatanku. Tenanglah, sebentar lagi lukisan wajahmu akan sempurna.
* * *
Purnama kesekian telah lahir. Dan seperti biasa, takkan kubiarakan malam ini terlewatkan tanpa hadirmu. Telah kutitipkan salamku pada seorang santri putri sore tadi. Saat senja mulai memerah dan maghrib berkumandang, kuyakin kau telah menerimanya. Bisa kubayangkan wajahmu yang bersemu merah atau sepasang lesung pipit yang tenggelam dikedua pipimu saat kau tersenyum girang menyambut salamku. Kau benar-benar telah mengkristal dan menyatu dalam memoriku An.
            Aku melangkah tegas ke belakang teras mesjid usai isya’ kutunaikan. Masih sama seperti sebelumnya. Lengang. Dan hanya wangi melati yang menemaniku mematung disini. Sembari menunggumu muncul dari bilik malam, kuhitung satu persatu bunga melati yang berhias indah disudut bangku taman belakang mesjid. Daun-daunnya ada yang menjuntai keatas membentuk pagar, ada sebagian kuncup melati pula yang ikut bertengger disana.
            Jam 23.45, kulirik jam tangan  yang pernah kubeli dari hasil tulisanku beberapa bulan lalu. Sudah terlalu malam kurasa untuk kehadiranmu kali ini. Tapi, masih belum ada gelagat sosokmu dari bilik itu. Apa kau sengaja membuatku berlama-lama menunggu disisni untuk mengujiku? Kalau itu kehendakmu, baiklah! Sampai larutpun aku akan tetap setia menantimu. Kau tahu, aku sedang berperang melawan dingin yang semakin merambat menajalariku.
            Sudah hampir subuh An, fajar kadzib menyingsing diufuk timur seolah mengusirku. Lebih dari separuh malam telah terlewat dan kau masih belum juga menemuiku. Apa yang terjadi denganmu malam ini?
* * *
Sekian malam kulewatkan lagi ditempat biasa, dan sudah berkali purnama berganti, kau tak membalas undanganku. Apa aku sendiri yang harus memanggilmu ke ma’had putri untuk mendengar penjelasanmu tentang ketidakadilan ini? Ini tak adil untuk perasaanku, An. Aku sudah sangat gusar dengan kealphaanmu beberapa purnama lalu. Terlalu tegakah kau mengujiku sepanjang malam, meringkuk dingin sendiri disudut melati yang selalu setia menemani pertemuan kita? Kau terlalu tega untuk gadis selembut dirimu, An.
            Besok, apapun yang terjadi aku akan mengirimimu surat untuk mengetahui kejelasanmu. Ayolah, jangan siksa aku dengan ketidakjelasan yang kau buat. Karena sampai kapanpun, rinduku takkan pernah kering meski kau uji aku dengan apapun. Aku telah menjelma menjadi sekebal Ibrahim yang tak mempan dibakar api raja Namrud sekalipun. Dan begitulah diriku yang tak pernah mempan oleh ujianmu, karena aku akan selalu menunggumu.
* * *
Maaf Ra, baru sempat saya balas. Mungkin ketidakhadiran saya beberapa purnama lalu, memunculkan berbagai tanya di hati ra. Nanti akan saya jelaskan ketika purnama mempertemukan kita kembali disudut serambi mesjid
Menunggumu, 
                                                                                                 Anni
Selembar memo kecil kuterima sebelum mentari begeser siang tadi.  Serasa berdebar hatiku menerima surat pertamamu, tak sabar ingin kudengar ceritamu purnama malam nanti. Mungkin kita akan berbincang lama karena berulang purnama kau telah menghilang dari duniaku. Aku punya hadiah kecil untukmu malam ini. Seminggu lalu, esayku kembali  meraih juara di salah satu Universitas Malang. Kau belum tahu kan? Nanti kuceritakan. Pasti!
***
Maghrib berkumandang, kado kecil uutukmu turut kubawa ke masjid. Usai jama’ah dan khataman akan langsung kutunggu kau di teras masjid, mungkin malam ini kau akan datang lebih awal.
Gerimis. Gerimis turun ternyata. Kupinjam payung dari salah seorang teman, sedikit ribet memang namun tak apalah. Sambil menikmati gerimis, kulangkahkan kaki menuju tempat yang selalu melukis pertemuan kita. Rasa bahagia membuncah dalam diri rasanya.
Aku merindukanmu
Masih tinggal delapan langkah menuju tempat kita, perasaan aneh tiba-tiba menyergapku. Samar-samar kudengar suara orang berbincang seakan berbisik. Aneh!
“Jadilah purnamaku, An!” Lebih kudekatkan langkahku kesisi melati, samar cahaya bulan menampakkan wajahmu disana.
Pikirku berputar keras, antara percaya dan tidak, kurasakan hatiku runtuh seketika. Ingin rasanya tak percaya, tapi yang kulihat benar kau. Seakan tak kuasa kakiku berdiri, ada geram juga marah sekaligus kebencian yang tiba-tiba saja menyergapku.
Kau, perempuan yang selalu menjadi purnama dan kutunggu hadirmu, dengan ikhlas kau gadaikan cintaku pada orang yang hidupnya tak lepas dari  hariku. Kurasa kaupun lebih paham, sosok yang bersamamu itu adalah  orang yang tak lebih dari saudaraku, orang yang menghabiskan banyak hari untuk mendengarkan ceritaku tentangmu. Orang yang kurasa paham betul akan hal-ku terhadapmu. Dan sekarang, kau dan dia telah membunuhku dengan kebohongan yang kalian cipta dihadapku.
Ternyata wajah lugumu yang kuagungkan, menyimpan ribuan bisa yang menyakitkan. Perempuan jalang dibalik polesan make up bidadari.
Inikah yang ingin kau jelaskan? Sudah berapa laki-laki yang kau beri harapan palsu, An?

Tentangmu dan Bukit Perawan

Dingin menyapaku melalui celah bukit perawan. Keindahan lukisan putri tidur menyemai wajahmu disana. Ada rindu yang kupahat untuk satu senyummu yang kau tinggal saat kali pertama kau menyapaku disini. Hujan mewarnai pertemuan kita kala itu.
            Kedatanganmu yang tiba-tiba seolah membangunkanku dari mimpi. Bahkan aku sempat tak sadar kalau yang kujumpai adalah dirimu, yang dulu sempat melukis senyum lembut untukku dikampus. Kau berhasil menyihirku kembali, membekukanku dalam tatap mata elangmu.
            Kau bawa aku dalam diskusi hangat tak berujung, dan seperti biasa kita tak kan pernah sependapat. Ternyata  kau tak banyak berubah Rif. Kau masih Arif yang kukenal, yang selalu berusaha mematahkan segala pendapatku. Apalagi jika hal itu menyangkut perempuan, kau pasti akan mati-matian menyerangku dengan segala argumen yang menyudutkan.
            Pagi ini, kembali kupandangi putri tidur. Rasa dingin seolah membungkusku sampai pori. Kau benar. Malang memang tak pernah lepas dari cuaca dinginnya. Asal kau tahu, Rif, putri tidur tampak pulas dalam mimpi. Awan pagi masih setia menyelimutinya. Aku jadi menkaji perdebatan kita bulan lalu disini, diserambi mesjid tempat pertama kita bertemu. 
            “Selamanya kau tetap akan menjadi objek, Rin! Kau takkan pernah berengkarnasi menjadi makhluk pertama. Posisimu tetap dinomer dua,” hujatmu kala itu.
            “Takkan selamanya, Rif. Suatu saat kubuktikan, kalau aku dan perempuan lainnya bukan hanya akan jadi objek. Kita juga punya hak untuk menjadi makhluk pertama ,”sungutku tak kalah sengit.
            “Sudahlah, akui saja. Bagaimanpun posisimu tetap sebagai khabar, dan khabar itu selalu ada setelah mubtada’. Sekalipun ada khabar muqaddam, tapi jarang Rin. . .,” sanggahmu kembali. Kau analogikakan diriku sebagai khabar dalam istilah nahwu dan perdebatan kita mengalir semakin panas. Suaraku semakin meninggi saja saat kau berhasil menyudutkanku. Entah kenapa, kau selalu bisa membuat aliran darahku meninggi dengan segala argumenmu. Mungkin karena kau tahu tentangku yang tak pernah mau dianggap makhluk nomer dua.
            Ya. Aku memang tak pernah setuju dengan segala argumen yang menyudutkan perempuan. Sudah terlalu banyak airmata darah yang perempuan keluarkan untuk segumpal kejahatan laki-laki. Laki-laki memang tak pernah puas dengan segala yang didapatkan. Karena merasa dirinya diciptakan lebih dahulu dari pada Hawa, seenaknya saja menjadikan perempuan sebagai objek yang bisa diperlakukan bagaimanapun.
            Aku akan menghapus segala anggapan tentang tugas perempuan yang masih mendaging dibenak setiap orang di masyarakatku. Tentang perempuan yang hanya memilki tiga fungsi dalam 3D, di sumur, di kasur dan di dapur.  Tentu hal ini sangat tidak fair untuk perempuan. kita juga punya hak untuk bicara dan berpendapat seharusnya, bukan semata-mata tunduk dan berlindung dibawah ketiak laki-laki.
            Sekali lagi kutegaskan. Konsep arrijalu qawwamuna alan nisa’ hanya berlaku dalam kehidupan rumah tangga. Namun dalil tersebut juga tak semata-mata mengesampingkan perempuan. Perempuan juga berhak menerima haknya. Kita juga bisa berkiprah dengan segala kreatifitas yang kita milki. Bukankah orang-orang besar selalu lahir dan tumbuh dari rahim perempuan?
            Hari ini, aku berdiri di hamparan langit luas menyaksikan putri tidur disela bukit perawan. Dua hari yang lalu aku berhasil membungkam sekian lelaki yang ada di kampusku. Aku berhasil mengalahkan mereka dengan gelar wisudawati terbaik dan beasiswa ke luar negri yang kuterima. Aku bisa berada jauh diatas mereka Rif.
            Angin dingin pagi ini membuatku mengenangmu yang selalu berhasil menghujatku. Sekarang sudah kubuktikan, bukan? Aku tak mau kau menganggapku sebagai makhluk nomer dua lagi. Sekali-kali aku ingin benar-benar membungkammu Rif. Sekali saja!